Indonesiaku…Anak Bangsamu…
Kira-kira begini artinya :
Hore! Tidak ada sekolah. Seorang gadis yang seharusnya bersekolah duduk di atas gerobak makanan yang dipakai ibunya untuk berjualan di sekitar Taman Monumen Nasional di Jakarta kemarin. Menurut survey yang baru-baru ini dilakukan oleh International Labour Organization (ILO) menyatakan jumlah anak-anak Indonesia yang mengalami putus sekolah sudah mencapai 4,18 persen dan berlangsung secara terus menerus dengan diiringi meningkatnya tingkat kemiskinan negara. (Malay Mail edisi 3 Desember 2008)
Membaca artikel kecil yang ditulis pada bagian bawah photo ini membuat hati saya terenyuh.. Saya teringat nasib adik-adik saya yang mengalami putus sekolah di Indonesia. Tidak hanya itu, ada perasaan malu di hati saya sebagai orang Indonesia. Saya merasa malu dengan pemerintah saya yang masih belum mampu mengentaskan masalah kemiskinan dan masalah pendidikan yang masih menjadi isu terbesar bagi negara saya sendiri, Indonesia.
Sejak pertama kali saya datang ke Malaysia, sudah banyak orang lokal (Malaysia) yang bertanya apakah saya datang kesini dengan adanya bantuan dari pemerintah. Saya menggeleng, dan mereka pun terkejut. Lalu mereka bercerita bahwa di Malaysia, kerajaan mereka memberikan bantuan pinjaman bagi anak negeri yang ingin bersekolah bila tidak ada biaya. Bahkan, kerajaan pun membantu mereka yang bersekolah diluar Malaysia, semisalnya mereka yang ingin melanjutkan sekolah di Inggris.
Hal ini patut ditiru oleh Indonesia. Pemerintah seharusnya memberi bantuan pinjaman kepada mereka yang memerlukan bantuan dana dalam masalah pendidikan. Bukan hanya itu, tapi pemerintah berserta penjabat-pejabat juga harus mengontrol dan mengawasi, bukan mengkorupsi..

Terlalu banyak masalah yang harus diatasi pemerintah Indonesia ini, Sia. Masalah korupsi, minimnya mutu sumber daya manusia, dan lain sebagainya.
Seharusnya memang begitu, pemerintah memberikan bantuan dan memprioritaskan pendidikan anak bangsa karena masa depan bangsa berada di tangan mereka. Tapi, entahlah. Entah bagaimana harus berkata dan bertindak sebagai anak bangsa.
Oya, terima kasih coklatnya ya. Habis dalam sekejap. Kapan pulang lagi, sia?
Tapi, saya juga tak yakin dengan apa yang terjadi d masa depan. Katanya para calon pemimpin akan memperuangkan nasib pendidikan. Tapi apa betul? Saya juga tak mengerti.
Omong-omong Fresti kok gak dapet coklat??